Menyemir Sepatu

Siulan Ocoy menggema disela suara ongseng penggorengan Yati yang sedang menggoreng nasi. Rumah tempat tinggal pasangan muda itu memang hanya sebuah rumah petak yang terbagi tiga bagian. Depan untuk ruang tamu sekaligus keluarga, tengah diisi tempat tidur yang berdampingan dengan meja makan dan lemari pakaian. Sedangkan bagian belakang menumpuk perkakas dapur yang bercampur dengan ember cucian serta kulkas yang sedikit memakan pintu kamar mandi. Hingga siapa pun yang akan melangkah ke kamar mandi harus memiringkan badannya agar tak terantuk pinggiran kulkas.
Sudah barang tentu suara siulan Ocoy yang berada di depan masih bisa bersautan dengan klonteng penggorengan Yati di dapur.

Siulan Ocoy yang menyenandungkan lagu Terajana seakan menyiratkan sebuah pagi yang cerah dipenuhi hangatnya mentari pagi. Sebab kebahagiaan adalah hak bagi siapa pun, bukan?

Sambil bersiul, tangan kanan Ocoy sibuk menggosokkan semir ke atas sepatu kulitnya yang berwarna hitam sementara tangan kiri menyusup ke bagian dalam sepatu. Sedikit bolong di samping dan agak menganga di bagian depan. Tapi tak mengurangi semangatnya untuk mengilapkan sepatu yang sudah sepuluh tahun menemaninya mencari nafkah sebagai pesulap jalanan. Biar pun hanya beraksi di atas bus, penampilan tetaplah nomor satu.

Aktivitas Ocoy sempat dihentikan oleh aroma nasi goreng yang melintas tanpa permisi. Yati meletakkan sepiring nasi goreng bertopping telur ceplok di samping Ocoy.  Setelah itu Yati tak langsung kembali ke dapur. Ada hal yang memaksanya berdiri di samping Ocoy yang duduk bersila di lantai.
“Kamu sudah gila ya?”
“Kenapa sayangku?”
“Mau kerja pakai sepatu belang-belang? Kiri hitam, kanan cokelat.”
“Oh, soalnya sepatu hitam yang kanan itu jebolnya sudah parah. Tak bisa diselamatkan.”
“Tapi gak musti pakai sepatu belang juga, Mas,” tukas Yati keheranan. “Kan, masih ada sepatu pemberian adikmu. Itu malah lebih bagus.”
“Sepatu itu terlalu sempit. Kalau dipakai jalan, jempolku sampai tertekuk. Makanya tak pernah kupakai.”
“Jual saja, kalau begitu. Tukar dengan yang ukurannya pas.”
“Enggaklah. Itu kan, hadiah ulang tahun.”
“Daripada pakai sepatu belang. Seperti orang sinting saja.”
“Tak masalah dikatai gila, yang penting kakikku tak kesakitan dan jempolku tidak mati kehabisan darah.”
“Kamu ini bikin malu aku saja.”
“Lho, kenapa harus malu? Memangnya kamu tak pakai celana?”
“Apa sih.” Telapak tangan Yati yang jari-jarinya sebesar belimbing sayur itu sigap menoyor kepala Ocoy.
“Lho kamu ini gak paham. Untuk apa kita memaksakan hidup harmonis dalam keseragaman kalau menyakiti diri sendiri? Memangnya mau ada yang bayari biaya pengobatan jempolku, kalau sampai cantengan?” Sepatu yang disusupi telapak kiri Ocoy ia letakkan di lantai.
“Buatku, lebih baik belang tapi hidup ini nyaman.”
“Halaah, lambemu Mas.”
“Waini. Tuhan itu sengaja menciptakan kiri dan kanan untuk menunjukkan bahwa perbedaan itu justru menciptakan keharmonisan. Coba kalau kakimu kanan semua, apa tidak semakin aneh?”
“Nggak nyambung blas. Pokoknya aku tak suka kamu kerja, pakai sepatu belang. Mending pakai sendal,” kecamnya seraya melenggang ke dapur. “Aku mau mandi.”

Ocoy tak membalas ucapan Yati. Ia sudah kembali larut dalam siulan Terajana yang keluar dari mulutnya, hingga tak menyadari kehadiran Yati yang kembali ke depan sambil menenteng handuk.

“Kamu punya perempuan lain ya?”

Siulan Ocoy terhenti. Ia mendongak ke arah wanita berbadan gemuk itu dengan pandangan heran.
“Tak biasanya kamu siul-siul kegirangan. Ngaku saja, kamu punya perempuan lain?”

Ocoy membanting sepatu yang baru disemir lalu bangkit dan pergi ke arah kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Yati. Tak lama terdengar lagi siulan Ocoy.
“Wedus, aku duluan yang mestinya mandi, mas!”

Sejak peristiwa pagi itu, Yati tak pernah tahu, nasi goreng bikinannya selalu terasa asin di lidah Ocoy.

Bekasi, 11 Mei 2017

Advertisements

Silakan Sebut Dia Penista

Meski belum inkrah, tapi vonis sudah dijatuhkan kepada Gubernur Basuki Tjahaja Purnama a.ka Ahok oleh hakim PN Jakarta Utara. Ahok bersalah telah menodai agama islam. Jadi gua persilakan kalian menyebut Ahok sebagai penista. Semoga itu bisa mengikis kebencian yang ada dalam diri lo.

Tapi buat siapa pun yang sudah membawa-bawa al maidah 51 hanya untuk menjegal Ahok jadi gubernur, bagi gua itu cheap! Murahan. Receh. Apalagi fakta yang muncul bukan cuma melarang orang islam memilih pemimpin non muslim, melainkan mengkafirkan sesama muslim yang memilih pemimpin non muslim, menolak mensalatkan jenazah, mengusir orang islam dari masjid, hingga memutus persaudaraan.

Faktanya yang meyakini haram memilih pemimpin non muslim, malah bersikap tidak konsisten. Di tempat lain mendukung calon non muslim. Faktanya ketika pasangan pilihannya menang, mereka yang saat pilkada berteriak: memilih pemimpin kafir sama dengan kafir, kini melarang siapa pun mengkafirkan. Faktanya silakan temukan sendiri.

Gua masih inget twit gua ketika awal-awal rame kasus pulau seribu. Ya, gua bersimpati kepada ahok yang langsung dihujani hujatan. Gua pun sama dihujat kiri kanan.

Gua bersimpati kepada Ahok, sebab sejak ikut pilkada belitung dia sudah dibenturkan dengan al maidah 51. Bahkan ketika dia maju jadi wakil gubernur DKI bareng Jokowi pun, al maidah 51 dimunculkan. Hanya wakil saja sudah dibenturkan. Padahal tafsir ‘awlia’ dalam al maidah yang diperdebatkan, bicara pemimpin.

Ini gak fair.

Sudah barang tentu Ahok akan gondok, sebab kata negara boleh kok, jadi pemimpin. semua warga negara memiliki hak untuk mengabdi. Kenyataannya, dia harus berhadapan dengan sesuatu yang gak bisa dia lawan.

Ketika Ahok harus menggantikan Jokowi jadi gubernur, seorang Habib Rizieq yang katanya ulama besar, langsung menolak kepemimpinan Ahok dengan mengangkat gubernur sendiri. Sikap yang menurut gua jelas termasuk makar. Sejak kapan rakyat dibolehkan mengangkat gubernur sendiri dan gak mau tunduk kepada gubernur yang sah? Dilanjutkan dengan unggahan video penolakan dari mahasiswa UI, disusul UNJ, yang lagi-lagi bawa dalih agama, jauh sebelum kasus pulau seribu. Gelombang serangan yang bawa-bawa al maidah semakin kencang saat masa kampanye dan berpindah ke masjid dan ceramah-ceramah.

Maka dari itu, buat gua adalah manusiawi kalo Ahok keceplosan ngomong ‘Jangan mau dibohongi pake al maidah ayat 51’ karena sudah terlalu sering diadang ayat yang makna sebenarnya bukan untuk konteks politik.

Dari yang hanya keceplosan, seakan jadi peluru emas untuk meluapkan kemarahan lawannya, sekaligus semakin mengilapkan al maidah lewat aksi berseri dengan dalih membela agama, yang kemudian hari dikoreksi lagi oleh seorang dai kondang pendukung aksi:
islam sudah sempurna, tak perlu dibela. Ini aksi membela diri.

Sebagai orang islam gua jelas geram, kenapa yang mayoritas ini seakan gak pede punya kader lebih baik dari Ahok, sampai harus bawa-bawa al maidah 51?

Katanya ajaran islam itu sempurna. Harusnya gak susah punya calon pemimpin muslim yang lebih amanah, jujur, tegas tapi santun, adil dan bersih dibanding seorang Ahok yang kafir dan bermulut ‘comberan’, tukang gusur, sombong dan masih banyak kekurangan lainnya. Gak perlu bawa SARA, rakyat otomatis akan pilih yang segolongan andai lebih baik.

Akhirnya tanpa sadar kita malah menjadikan al maidah sebagai merk gunting yang dipakai untuk memotong tenun kebangsaan, selain jadi merk sabun.

Lalu siapa yang sebenarnya menista al quran?

Tabik.

Kambuh

Matahari menyengat genting asbes kamar kos. Kipas angin menggeleng bosan. Baling-baling biru tertutup debu, berputar malas. Uarkan hawa panas.

Kasur membara. Seprei lusuh kuyup, oleh peluh Wali Kelas yang terbaring. Menatap kosong eternit penuh jamur dan ramat. Jiwanya tertinggal di kelas.

Pagi tadi, Robin sang murid baru, memperkenalkan dirinya. Aroma maskulin anak itu menusuk libido. Kulit legamnya mengilat. Bibir tebalnya menggetarkan dada. Sampai sekarang.

“Tidak, aku sudah tobat.”

Langit-langit mendekat. Kamar menyempit. Bibir tebal Robin terus menggoda.

“Aku sudah tobaaaaaaaaaaat!”

Dadanya meledak bila tak digagalkan dering ponsel.

“Halo, Saya orangtua Robin. Kabarnya Bapak menerima les privat?”

Wali Kelas tersenyum lebar.

Tangerang, 23/2/2017

disertakan untuk Monday Flash Fiction. Edisi Kamis, 23 Februari 2017