Langit sudah berubah warna. Matahari nyaris tenggelam di ufuk Barat. Lena sudah hampir menangis karena harus pulang. Tapi dua temannya, Adi dan Jarot masih mengolok-olok dirinya. “Sudah dong. Kembalikan sendalku. Aku musti pulang nih. Nanti aku bisa diomelin mama.” Dua bocah lelaki itu makin girang melihat muka Lena yang memelas. Jarot melambai-lambaikan sendal kiri Lena. Dan setiapkali Lena mencoba mengambil, Mereka berlari menjauh sambil tergelak. Melihat langit yang semakin gelap, Lena pun semakin emosi. Dia mengambil sebongkah batu lalu mengancam mereka. “Balikin atau kutimpuk nih!” Melihat perempuan itu memegang batu, mereka berdua kabur. Lena mengejar dengan sekuat tenaga. Ketiganya berlarian hingga tak disadari mereka masuk ke dalam hutan yang cukup lebat.
Ketika dirasakan pandangannya semakin terbatas, Lena mulai sadar. Ia mendongak, langit sudah mulai pekat. Matahari rupanya sudah habis ditelan bumi. Rimbunan pohon yang menghalangi cahaya masuk semakin membuat gulita sekeliling hutan tempat Lena berdiri. Rasa takut mulai merambat di sekujur tubuhnya. “Adi, Jaroot.. Kalian dimana? Aku takut.” Lena memanggil teman-temannya sambil bercampur tangis. Tapi tak sedikit pun terdengar jawaban dari teman-temannya itu. Rasa takutnya semakin memuncak. Kini ia teringat mama dan papa. Ia menangis sejadinya sambil memanggil-manggil kedua orangtuanya. Dengan mengerahkan sisa tenaga, ia pun nekad berlari ke sembarang arah. Ia tak pedulikan ranting dan duri yang merobek baju bahkan melukai kulitnya. Ia terus berlari dan berlari. Nalurinya ternyata berhasil membawa Lena sampai di ujung desa. Ia pun terduduk lemas namun lega. Ia seka airmata yang sudah membanjiri pipi. Ia mengatur nafas yang tersengal, kemudian berjalan lebih santai ke arah rumahnya.
Begitu tiba di teras ia melihat puluhan warga tampak berkumpul. Suara lantunan ayat suci membahana di ruang tengah. Papa dan mama ikut bergabung. Wajahnya tampak kuyu. Dengan perasaan bercampur aduk ia sekilas melihat setumpuk buku yaasin yang tergeletak di atas meja. Ada foto dirinya berisi tulisan, “peringatan 40 hari wafatnya ananda tercinta, MARLENA BINTI HARYANI.
Dari balik pohon nangka yang tumbuh di halaman, Adi dan Jarot masih cekikikan melambai-lambaikan sendal kiri Lena.
2012-01-21
#15harimenulisfiksihoror
